Pada bab "Jangan berlebih-lebihan"
kita telah membahas doktrin trinitas berdasarkan kronologis pemunculannya
berikut koreksi al-Qur'an atas kesalahan-kesalahan paham tersebut.
Untuk mengetahui lebih jauh tentang
paham trinitas ini, maka akan kami ketengahkan beberapa penjelasan yang berkembang dalam tradisi
Kristen. Pengalaman salah satu penulis buku ini (Irena Handono) pada saat
menjadi suster di Biara, dapat mernberikan gambaran tentang tradisi Kristen
dalam memahami trinitas.
Pada usia anak-anak Irena kecil
dididik dilingkungan Kristen Katolik. Tradisi gereja
diterimanya seperti anak-anak Kristen lainnya. Namun ketika menginjak dewasa
-apalagi sebagai biarawati yang selalu mengkaji masalah keagamaandoktrin
Trinitas yang selama ini ia pahami membuat dirinya kebingungan untuk menalarnya.
Kebingungan dalam memahami doktrin Trinitas dan masalah ketuhanan -yang menjadi
dasar dari sebuah keyakinan keagamaan- mendorongnya untuk mencari sumber lain,
yang akhirnya bertemu al-Qur'an. Karena tidak mengerti cara membuka kitab suci
Al-Qur'an, maka ayat Al-Qur'an yang pertama kali dipelajari adalah yang letaknya
di belakang, yaitu surat
A1 Ikhlas. Surat pendek yang mengajarkan masalah ketuhanan
dengan sangat jelas dan tegas, tanpa analogi yang bertele-tele. Surat al-Ikhlas inilah yang kelak merubah kehidupannya
secara drastis.
Malam hari ia mempelajari surat
A1 Ikhlas, pagi harinya
ia mendapat kuliah theologi dari salah satu dosennya yang mengatakan bahwa Tuhan
itu satu tetapi pribadinya ada tiga yaitu Tuhan Bapak, Tuhan Anak dan Tuhan Ruh
Kudus. Satu Tuhan didalam tiga, tiga Tuhan di dalam satu, itulah yang disebut
Trinitas. Terhadap pandangan ini ia mengatakan kepada dosennya, bahwa ia belum
paham mengenai hakikat Tuhan seperti itu. Maka si dosen maju ke papan tulis
menggambar segitiga sama sisi. Dosen bertanya: "Segitiga ini ada berapa?" Irena
menjawab: "Satu!" Sisinya ada berapa? "Tiga", jawab Irena. Lebih lanjut si dosen
menjelaskan bahwa itulah hakikat Tuhan. Tuhan Bapak sama kuasanya dengan Tuhan
Anak dan sama kuasanya dengan Tuhan Roh Kudus.
Dengan penjelasan seperti itu, Irena
mengutarakan pendapatnya kepada si dosen: "Kalau demikian Pater, suatu saat
nanti kalau dunia ini semakin maju, iptek semakin canggih, maka Tuhan itu kalau
hanya tiga pribadi tidak cukup, paling tidak harus ada penambahan
menjadi empat pribadi.
Jawab dosen: "Tidak bisa!"
"Bisa saja!" sambung Irena, sambil
maju ke papan tulis ia menggambar bujur sangkar, segi empat sama
sisi.
Kalau tadi gambar segitiga sama sisi
disimpulkan bahwa Tuhan itu Pribadinya ada tiga, maka gambar
bujur sangkar adalah sah-sah saja kalau dikatakan bahwa Tuhan itu pribadinya ada
empat.
Si dosen kaget dan menjawab: "Tidak
boleh!"
Mengapa tidak boleh?, Tanya Irena.
Segera si dosen menjawab: "Trinitas itu sudah merupakan dogma". Dogma itu adalah aturan atau
hukum yang dibuat oleh para pemimpin gereja.
Tidak puas, Irena bertanya lagi:
"Kalau saya masih belum paham dengan dogma itu bagaimana?"
Dengan tegas si dosen menjawab: "Anda
paham atau tidak, terima saja dan telan saja, jangan dipertanyakan. Jika anda
ragu hukumnya dosa."
Meskipun ia sudah diancam dengan
dosa, namun pada malam harinya ada dorongan yang sangat kuat pada dirinya untuk
kembali mempelajari surat Al Ikhlas. ALLAHU AHAD! Suara hatinya
mengatakan: "ini yang benar".
Hari-hari berikutnya Irena selalu
bertanya kepada para dosen yang lain.
la mengawali pertanyaan
dengan menggunakan bahasa perumpamaan, antara lain: "Pater, siapakah yang
membuat meja dan kursi?
"Dosennya tidak mau menjawab, justru Irena diperintahkan menjawab pertanyaannya
sendiri.
la pun segera
menjawab:"Yang membuat meja dan kursi ialah tukang kayu." Dosen nya balik
bertanya: `Apa maksud anda dengan pertanyaan seperti itu?", jawab Irena: "Meja
dan kursi itu, meskipun dibuatnya satu tahun yang lalu, sampai seratus: tahun
kemudian bahkan sampai hari kiamat, meja dan kursi tetap sebagai meja dan kursi,
tidak ada satupun meja kursi yang mampu mengubah dirinya menjadi tukang kayu,
dan tukang kayu tidak boleh dipersamakan dengan meja kursi. Demikian pula bahwa
Allah menciptakan alam semesta berikut segenap isinya termasuk manusia; meskipun
manusia itu dilahirkan satu tahun yang lalu, sampai seratus tahun kemudian
bahkan sampa hari kiamat, manusia akan tetap manusia, tidak ada seorangpun
manusia yang mampu mengubah dirinya menjadi Tuhan, dan Tuhan tidak boleh
dipersamakan dengan manusia.
Pada hari-hari yang lain Irena bertanya lagi kepada
dosen Yang lain: "Pater, siapakah yang melantik Walikota?", Dosen balik
bertanya: "Seorang suster tidak tahu siapa yang melantik Walikota?", Ia jawab:
"Sebenarnya saya tahu Pater; bahwa yang melantik Walikota itu pasti echelon di
atasnya yaitu Gubernur." Dosen lantas menanyakan: "Mengapa anda bertanya seperti
itu?", Ia jawab: "Kalau ada Walikota dilantik oleh Camat, maka pelantikan itu
tidak sah. Demikian pula bahwa manusia itu kedudukannya adalah sebagai hamba
Tuhan, maka kalau ada manusia melantik sesama manusia menjadi Tuhan, maka
pelantikan itu tidak sah selamanya."
Dengan berbagai dialog yang dilakukan itu, ia
mendapat predikat sebagai seorang biarawati yang kritis. Sampai pada klimaksnya,
ia berdialog dengan dosen sejarah gereja.
la bertanya: "Pater,
menurut literatur yang saya baca dan kuliah yang saya terima, Yesus itu baru
dilantik dan mendapat sebutan Tuhan, terjadinya pada tahun 325 Masehi. Yang
menobatkan Yesus sebagai Tuhan ialah Kaisar Romawi yang bernama Constantin.
Dilakukan dalam rangka konsili di kota Nicea. Benarkah demikian? Jawab
si dosen: "Ya, benar. Mengapa?"
Maka ia katakan: "Kalau demikian
Pater, menurut kesimpulan saya, Yesus itu bukanlah Tuhan melainkan manusia
yang dipertuhankan oleh
manusia dan penuhanan itu tidak sah selamanya". Iman Kristianinya menjadi goyang
total, selanjutnya dia mendapatkan keyakinan baru yang teguh dan bulat bahwa
Islam adalah satu-satunya agama tauhid dan satu-satunya agama yang
hak.
Selain permisalan "segi tiga" analogi
yang lain adalah
"telur", yang terdiri dari kulit, putih dan kuning telur ketiganya tidak bisa
dipisahkan. Dan layaknya sebuah telur pemanfaatannya pun tergantung kebutuhan,
kadang kulitnya saja, atau kuning saja. Maka walaupun sebelumnya berwujud satu,
jika kemudian dipahami secara parsial tetap saja bukan satu.
Analogi lainnya adalah "matahari",
yang memiliki sinar,
panas dan bulatannya itu sendiri. Mataharipun akan dimanfaatkan secara parsial,
dalam gelap orang sering mengambil sinarnya, atau menolak panasnya karena
takut kulitnya hitam. Analogi matahari ini malah lebih mirip dengan kepercayaan
masyarakat Mesir Kuno, yang sebelumnya hanya mempercayai matahari, dan kemudian
berkembang menjadi tiga kekuatan ketika mereka menafsirkan, bahwa dewa matahari
pada pagi hari berbentuk anak kecil (Khabire), siang hari menjadi dewasa (Re),
dan malam hari berwujud seorang tua (Atom); namun ketiganya adalah satu yaitu
dewa matahari yang naik kapal solar (matahari) berlayar di angkasa dari timur
hingga ke barat13. Namun demikian kita tidak lantas
buru-buru mengatakan bahwa mereka menyembah dewa Matahari -seperti pola pikir
Dr. Robert Morey-, hanya saja pandangan yang parsial terhadap eksistensi Tuhan
tidak jauh berbeda dengan pandangan masyarakat Mesir kuno yang belum mampu
menalar wujud Penguasa Tunggal alam semesta.
Penjelasan yang lebih argumentatif datang dari
Thomas Aquinas yang mendasarkan pada pandangan Yesus sebagai firman Tuhan.
Menurut pandangannya bahwa dua oknum -selain Allah- adalah "Yang keluar" dari
Allah, ia tamsilkan sebagaimana produk yang keluar dari akal. Ia umpamakan: Roh
kudus keluar dari Tuhan Bapa, seperti keluarnya obyek pemikiran dari akal, tanpa
memisahkan antara yang keluar dengan sumbernya. Atau seperti keluarnya kalimat
dari manusia.14
Pandangan ini tetap saja parsial dan
tidak lepas dari bantuan "permisalan", sebab apa "yang keluar" adalah wujud lain yang
keluar dari kekuasaanNya. Dan pandangan ini bertentangan dengan keterangan
Bible sendiri yang
menyatakan bahwa Allah adalah yang Awal dan yang Akhir, maka yang keluar adalah
bukan yang awal.
Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah
aku di depan kakiNya sama seperti orang yang mati; tetapi la rneletakkan
tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: 'Jangan takut! Aku adalah Yang Awal
dan Yang Akhir, (Wahyu 1:17)
Description: Unitas atau Trinitas?,
Rating: 4.5,
Reviewer: Unknown,
ItemReviewed: Unitas atau Trinitas?

0 komentar:
Posting Komentar